Penghargaan Internasional GTP di Dubai 2017

by admin / 25 Apr 2017 / Lihat Video Disini
#

Keterangan Gambar : Dayang Suriani ketika diterima Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai mengikuti Internasional Global Teacher Prize (GTP) di Dubai, baru-baru ini. (istdisdikkaltim)

 

Penghargaan Internasional GTP di Dubai 2017, Dari Kaltim Bawa Indonesia Jadi Guru Terbaik Dunia

SAMARINDA- Prestasi membanggakan kembali diraih putri daerah asal Kaltim, yaitu Dayang Suriani Guru SMA Negeri 1 Balikpapan berhasil meraih penghargaan bagi Negeri ini Tanah Air Indonesia yang mampu menjadi salah satu dari 50 Guru Terbaik Dunia bersaing dengan 20.000 Guru dari 179 Negara pada ajang Internasional Global Teacher Prize (GTP) di Dubai, Minggu (19/3). Setelah tersaring 50 guru terbaik di Dunia, maka tersisa 39 negara termasuk Indonesia yang diwakili Kaltim.

Even ini merupakan garapan dari Unesco, United Kingdom (UK) dan United States of America (USA) dan kerjasama dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Event tersebut merupakan ajang penghargaan bagi Guru Berprestasi di Dunia atau Internasional yang tahun ini digelar di Dubai.

Meraih penghargaan tersebut, menurut Dayang Suriani memang tidak mudah. Untuk menjadi seorang guru yang global atau guru yang mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan. Maka guru tersebut harus bisa mengikuti berbagai tahapan yang dilaksanakan pada event tersebut.

“Misal, sebagai guru kita harus bisa bekerja dengan sebaik-baiknya. Memiliki kreativitas dan inovasi. Bahkan, sebagai ibu maupun bapak dari anak-anak dalam keluarga juga harus bisa membagi waktu kepada keluarga dan mampu membesarkan anak-anak dengan akhlak dan prilaku yang baik. Jika perlu ketika kegiatan di dalam keluarga bersama anak atau satu keluarga dapat didokumentasi, sehingga dari dokumentasi ini dapat menjadi informasi bagi para mentor maupun juri yang menilai penghargaan tersebut,” kata Dayang Suriani ketika dijumpai pada saat berbagi pengalaman dengan sejumlah Kepala Sekolah di Samarinda, Jumat (21/4).

Bahkan, sebagai guru yang berprestasi ketika dalam keluarga juga tidak lupa dengan suami. Begitu juga seorang suami tidak lupa dengan istri. Artinya, mampu memberikan pelayanan yang baik kepada keluarga apa pun yang diminta.

Selain itu, sebagai abdi masyarakat, maka seorang guru berprestasi harus mampu terjun di masyarakat dengan cara berbagi ilmu. Walaupun bukan dengan materi.

Mengingat perjuangan hingga berhasil menjadi 50 top guru di Dunia. Dayang Suriani mengaku menangis dan terharu ketika dinobatkan membawa Nama Negara menjadi guru terbaik diantara 39 negara di Dunia.

“Saya menangis ketika itu. Karena semua bendera Negara dikibarkan ketika pengumuman tersebut dan Bendera Negara kita ada di antara Negara-negara lain. Ya, ini merupakan kebahagiaan yang sangat luar biasa dan semoga dapat menjadi motivasi bagi guru-guru yang lain di Indonesia khususnya di Kaltim,” jelas Dayang Suriani yang kesehariannya mengajar sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Balikpapan.

Sebelum melangkah menuju sebagai 50 Top Dunia. Memang ada 20.000 guru di dunia bersaing melalui via online yang disampaikan kepada penyelenggara event tersebut. Sedangkan ketika di Dubai adalah tinggal bagaimana meningkatkan kompetensi, kepribadian dan sosial dihadapan para juri. Sementara ketika melalui via online di Tanah Air masing-masing, peserta lebih mengedepankan kompetensi, professional dan kemampuan pedagogic.

“Jadi, kiprah kita dimasyarakat itu lebih penting. Bagaimana menjadi guru yang baik dan ibu rumah tangga yang baik itu sangat penting. Karena, pertanyaan para juri tidak lepas dari bagaimana peran seorang ibu terhadap keluarga selain memiliki kompetensi. Artinya, guru dituntut tidak lupa bagaimana sebagai ibu rumah tangga, begitu juga seorang guru laki-laki bagaimana peran dia sebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya,” jelas Dayang Suriani.

Ketika mengikuti tahapan via online memang tidak mudah. Selain jaringan internet harus kuat. Kondisi tubuh juga harus prima. Karena, mengerjakan jawaban yang diberikan para juri melalui online diterima setiap malam hari.

“Karena itu, dukungan keluarga sangat penting. Artinya, dalam meraih kesuksesan peran keluarga sangatlah paling utama,” ceritanya.      

Dayang Suriani berpesan, jika ingin menjadi guru terbaik bukan hanya di dunia, tetapi di sekolah, maka diperlukan adalah mengajar dengan sebaik-baiknya, berikan yang terbaik untuk anak didik. Jika perlu jangan sering bolos mengajar. Artinya, sebagai guru harus disiplin, komitmen dan cinta. Jika, setiap guru sudah cinta dengan profesinya, maka tidak ragu lagi apa yang dikerjakan. Karena, rezeki Tuhan yang mengatur.

Setelah dari kompetisi tersebut, Dayang Suriani disambut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi ketika dikonfirmasi didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kaltim Dayang Budiati mengaku bangga terhadap prestasi yang diraih guru Kaltim asal Kota Balikpapan tersebut.

Artinya, dengan prestasi tersebut Dayang Suriani telah membanggakan daerah dan Negara. Kaltim bangga karena dari daerah ini mampu berbuat yang terbaik bagi Negara. “Pemprov Kaltim sangat bangga dari hasil kerja yang dilakukan Dayang Suriani. Apalagi, guru ini baru berusia 42 tahun. Ini merupakan aset Kaltim. Diharapkan ada Suriani lainnya di Kaltim yang mampu memberikan terbaik bagi daerah dan Negara di masa akan datang,” jelasnya.(jay/sul/ri/adv)