Menilik Kota Samarinda Tempo Dulu

by admin / 04 Apr 2017 / Lihat Video Disini
#

Keterangan Gambar : cover

 

Judul     : In Brief Samarinda 1988 – East Kalimantan Indonesia.


Penulis : -
Tahun   : 1988
Peresensi : Indri Wahyuni (Staf Data dan Informasi Humas Setda Prov. Kaltim)
Sumber buku : Perpustakaan Humas Setda Prov. Kaltim

Sangat unik. Itulah kesan pertama yang tergambar saat melihat sampul buku ini di antara deretan buku-buku koleksi Biro Humas Setda Prov. Kaltim. Apalagi ketika mulai membuka lembar demi lembar, berikut isi di dalamnya. Selain tulisan di buku ini masih menggunakan mesin tik, keunikan lainnya foto-foto yang ditempatkan sebagai penguat deskripsi mulai dari sampul depan hingga pada halaman per halaman berikutnya, ternyata keseluruhannya merupakan  foto asli yang ditempel, tidak di cetak sebagaimana buku-buku ‘modern’ saat ini.

Inilah yang menjadikan buku ini sayang untuk tidak dibaca, karena buku ini sangat berharga, apalagi foto-foto tersebut ‘berbicara’ banyak tentang Samarinda tempo dulu. Seperti pepatah yang mengatakan : A Picture is worth a thousand Words.

Diluar keunikan itu semua, isi buku berbahasa Inggris ini memberikan gambaran yang cukup kuat dan detail bagaimana mengungkap kondisi dan situasi kota Samarinda di masa itu. Apalagi disertai data-data statistik yang cukup lengkap. Pembaca seolah diajak mengembara mengikuti untaian sejarah, kependudukan, ekonomi daerah, serta  industri dan perdagangan ibu Kota Provinsi Kaltim yang mulai mengepakan sayapnya sebagai kota industri dan komersial.

Pada bagian sejarah Kalimantan Timur khususnya Samarinda, dijelaskan bagaimana pada pertengahan tahun 1800 pemerintah kolonial Belanda yang kala itu tengah memperluas kekuasaannya atas kepulauan Indonesia merasa tertarik dengan kondisi wilayah alam Kalimantan Timur. Sehingga pada tahun 1844 terjadilah peperangan antara pasukan Sultan di Tenggarong dengan penjajah Belanda. Saat pasukan Sultan kalah dibuatlah suatu kontrak perjanjian dengan pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan agar Sultan tetap bisa mengawasi keberadaan pemerintah Belanda selama berada di wilayah kekuasaan Sultan.

Dilanjutkan pada masa kependudukan Jepang di Samarinda, meski disebutkan hanya berlangsung seumur jagung yakni selama tiga bulan, hingga perubahan status kota Samarinda menjadi ibukota provinsi Kalimantan Timur. Diceritakan pula pada tahun 1945 tentara Australia dan tentara Belanda mengambil alih kekuasaan atas Samarinda, dan pada Januari 1946 kewenangan kekuasaan itu dikembalikan kepada kabupaten Kutai.

Kependudukan di kota Samarinda pun menarik untuk disimak. Pada tahun 1905 penduduk Samarinda berjumlah 4730 jiwa. Sebuah survey di tahun 1920 menyatakan bahwa daerah Samarinda Ilir dan Samarinda Ulu baru didiami oleh 6.895 jiwa dimana 5.207 adalah warga Indonesia, 1.413 warga China, 120 warga Barat dan 155 warga Eropa. Sepuluh tahun kemudian di tahun 1930 populasi di kota Samarinda meningkat sampai 61% yaitu 11.086 jiwa dan pada tahun 1971 populasi melonjak hingga mencapai 137.918 jiwa.

Melalui buku ini pula kita bisa mengetahui bagaimana  sektor industri dan ekonomi  kota Samarinda berkembang. Disebutkan sejak tahun 1976 kota Samarinda tumbuh pesat sebagai kota industri dan komersial. Lalu pada sekitar tahun 1979 – 1988 aktivitas ekonomi, industri dan perdagangan di Samarinda  lebih banyak dipengaruhi oleh minyak/gas dan kayu ( hasil hutan). Saat itu minyak/gas beserta hasil hutan adalah termasuk orientasi export terbesar. Sekitar 35 % pendapatan nasional dihasilkan dari ekspor minyak.  

Perkembangan industri yang cukup pesat ini membawa dua dampak, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah semakin banyaknya industri-industri kecil dimana hal itu sangat mendukung tren peningkatan kegiatan industri  dari waktu ke waktu. Sedangkan dampak negatif dari semakin banyaknya industri yang bermunculan adalah polusi, udara dan sungai.

Kemudian berbicara tentang sektor informal yang ada di Samarinda, sejak tahun 1979 sektor informal tumbuh dengan cepat seiring dengan tingginya grafik pertumbuhan populasi. Sekitar 5 – 6 % tingginya populasi yang ada berasal dari transmigran dari luar provinsi Kalimantan seperti Pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Umumnya para transmigran tersebut kurang berpendidikan formal dan tidak memiliki keahlian khusus, sehingga mereka lebih memilih untuk membuka usaha yang termasuk dalam sektor informal, dimana dalam usaha sektor informal ini modal yang diperlukan relatif kecil, tidak memerlukan keahlian khusus/pendidikan formal dalam menjalankannya, ruang lingkup usaha yang sempit dan kecil,tidak memerlukan peralatan/tekhnologi canggih dan peralatan untuk usahapun sangat sederhana.

Pada tahun 1985 pemerintah kotamadya Samarinda memulai spesial program untuk mempromosikan sektor informal. Target utama adalah dibangunnya area perbelanjaan di daerah kumuh seluas 2,7 hektar.  Area perbelanjaan tersebut terdiri dari 137 unit ruko, 25 unit kios, 52 unit toko serta 224 unit kompartemen untuk para pedagang kaki lima yang berasal dari daerah ini. Pemerintah juga membantu memberikan beberapa sarana/fasilitas serta bantuan keuangan dan teknis yang diharapkan dapat menunjang jalannya usaha/mata pencaharian mereka.

Keberadaan kota Samarinda sendiri dengan sungai-sungainya juga dikupas pada buku ini, terutama sungai Mahakam. Sungai Mahakam ini dengan cabang-cabangnya telah memainkan peran sentral sepanjang sejarah kota Samarinda yaitu sebagai sarana transportasi dan ‘komunikasi’ utama antara kota dan daerah-daerah pedalaman yang luas. Tentu saja banyak kearifan lokal yang tergali disana.

Pada tahun 1987 pemerintah kota mencanangkan program untuk menata  kembali tepi sungai Mahakam dan sungai Karang Mumus. Diharapkan tepi sungai Mahakam dan tepi sungai Karang Mumus dapat menjadi tempat terbuka yang hijau dan nyaman untuk masyarakat bersantai. Tidak lagi dipenuhi dengan pemukiman yang kumuh dan padat serta tidak ada lagi polusi air sungai oleh sampah-sampah yang dibuang oleh warga yang bermukim di bantaran sungai-sungai tersebut. Oleh pemerintah, warga yang bermukim di daerah kumuh tersebut akan dipindahkan ke pemukiman baru yang dilengkapi fasilitas tempat tinggal dan layak huni. Pemukiman tersebut akan dibangun oleh pengembang dengan sistem kredit khusus dalam kurun waktu 25 tahun.

Buku In Brief Samarinda 1988 – East Kalimantan – Indonesia sangat menarik untuk dibaca, dan  masih sangat relevan untuk dijadikan referensi  sejarah kota tercinta ini. Membaca buku ini juga sangat membantu kita untuk lebih memahami kondisi, situasi dan perkembangan kota Samarinda dari waktu ke waktu. Samarinda, melalui gambaran kata-kata dan terbingkai apik lewat foto-fotonya, jelas pernah mengukuhkan diri sebagai kota industri plywood dimana dipinggir sungainya berjamuran industri besar dan industri masyarakat. Nah, jika berkesempatan berkunjung ke buku-buku koleksi Humas Setda Prov. Kaltim, lalu menjadikan buku ini sebagai salah buku wajib untuk dibaca, rasanya sangat tepat. (*)