BALIKPAPAN - Dihari akhir pelatihan fasilitator atau pelatih kelapa sawit berkelanjutan (sustainable palm oil/SPO) bagi petani di Kaltim 2019, peserta pelatihan mendadak menjadi boss perkebunan kelapa sawit maupun tengkulak.
Bahkan ada pula menjadi pekebun sawit.
Pelatihan ini sebagai motivasi peserta fasilitator agar semangat dan mengetahui apa yang harus dilakukan dalam mengembangkan program kelapa sawit berkelanjutan di Benua Etam.
"Namanya companion modeling SPO. Di sini peserta diajarkan menggambarkan situasi kondisi perkebunan sawit rakyat atau swadaya. Fasilitator sebagai pendorong masyarakat melaksanakan system budidaya dan perencanaan yang baik di lahan mereka," kata Kepala Dinas Perkebunan Kaltim H Ujang Rachmad diwakili Kabid Perkebunan Berkelanjutan Henny Herdiyanto ketika hadir di hari kedua pelatihan di Hotel Blue Sky Balikpapan, Selasa (10/12/2019).
Menurut Henny, masyarakat atau petani yang mau melakukan perencanaan yang baik. Yaitu dengan kaidah-kaidah ketentuan yang telah diatur pemerintah atau norma lingkungan yang berkelanjutan, maka manfaatnya akan diterima dengan baik pula oleh para petani atau masyarakat.
Dari pelatihan diakhir nanti, peserta menggambarkan bagaimana peran petani, pengusaha atau boss sawit dan tengkulak serta pemerintah dalam menyukseskan pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.
"Mereka seolah-seolah mencari solusi. Yang nantinya ketika kembali tempat masing-masing bisa menerapkan pengetahuannya. Sehingga menuju perkebunan kelapa sawit berkelanjutan," jelasnya.
Pelatihan tersebut tidak lain bagian untuk menyukseskan kegiatan FPIC/Program Kampung Iklim+ (Proklim+), dalam rangka Program Program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) Tingkat Kabupaten di Kaltim. Sebagai upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Di mana program ini adalah program nasional didanai World Bank yang didukung Kementerian KLHK.
Pelatihan diakhir nanti dipandu Tim dari lembaga CIFOR-IPB yang akan membawakan materi pengenalan companion modeling SPO.
Melalui pelatihan ini diharapkan kelompok tani bahkan perusahaan bisa mendapat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau sertifikat (ISPO). Mengapa ISPO memiliki arti begitu penting bagi Perusahaan dan para pemangku kepentingan.
Memperoleh sertifikat ISPO merupakan kewajiban bagi petani kelapa sawit yang melakukan operasional usaha mereka di Indonesia dan salah satu bagian dari kegiatan dalam bisnis ini.
Sertifikasi ini memberikan aturan main yang berlaku setara baik bagi perusahaan besar atau petani swadaya. Semua diharapkan memenuhi persyaratan yang sama.
Persyaratan ini dirancang untuk memastikan petani kelapa sawit melakukan kegiatan operasionalnya sesuai hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia.
"Inilah tujuannya. Sehingga petani tidak asal mengembangkan perkebunan sawit. Tetapi mengetahui membuat perkebunan itu berkelanjutan. Pada akhirnya mampu mendukung penurunan emisi carbon yang dibangun melalui FCPF," jelasnya.(jay/her/yans/humasprovkaltim)
23 Oktober 2015 Jam 00:00:00
Lingkungan Hidup
15 Desember 2019 Jam 22:53:08
Lingkungan Hidup
06 November 2013 Jam 00:00:00
Lingkungan Hidup
13 Desember 2019 Jam 23:23:29
Lingkungan Hidup
16 Maret 2016 Jam 00:00:00
Lingkungan Hidup
13 Juni 2013 Jam 00:00:00
Lingkungan Hidup
01 Desember 2023 Jam 21:56:47
Gubernur Kaltim
01 Desember 2023 Jam 15:26:11
Gubernur Kaltim
01 Desember 2023 Jam 15:16:34
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur
30 November 2023 Jam 22:23:49
Gubernur Kaltim
30 November 2023 Jam 20:23:13
Gubernur Kaltim
06 Januari 2014 Jam 00:00:00
Pertanian dan Ketahanan Pangan
14 Maret 2022 Jam 15:54:00
Ibu Kota Negara
08 April 2013 Jam 00:00:00
Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
11 September 2019 Jam 23:31:22
Pendidikan
06 Juni 2022 Jam 19:30:28
Informasi dan Komunikasi
09 September 2018 Jam 18:36:16
Penanggulangan Bencana
13 September 2014 Jam 00:00:00
Pendidikan
08 Juli 2013 Jam 00:00:00
Kesehatan
29 Juni 2015 Jam 00:00:00
Pembangunan
22 September 2016 Jam 00:00:00
Pertanian dan Ketahanan Pangan