Kalimantan Timur
Lidi Nipah Ekspor Perdana, Kaltim Surplus USD 8,687 Miliar

MESKI pandemi Covid-19 terus mengganggu sepanjang tahun 2020, neraca perdagangan Kaltim tetap surplus. Periode Januari-Oktober 2020, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan surplus neraca perdagangan ekspor dan impor Kaltim mencapai USD 8,687 miliar.

 

Total ekspor Kaltim hingga Oktober mencapai USD 10,381 miliar terdiri dari Migas sebesar USD 978 juta dan Nonmigas USD 9,402 miliar. Sementara total impor mencapai  USD 1,693 miliar, terdiri dari Migas sebesar USD 818 juta dan Nonmigas USD 875 juta. 

 

Dengan demikan, secara keseluruhan terdapat selisih sebesar USD 8,687 miliar dengan rincian USD 8,526 tanpa Migas. Angka surplus itu masih sangat mungkin beranjak naik hingga akhir Desember.

 

“Sangat bersyukur, karena meski pandemi, neraca perdagangan kita tetap surplus dengan selisih yang cukup tinggi,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kaltim HM Yadi Robyan Noor, Minggu (27/12).

 

Salah satu sukses era kepemimpinan Gubernur Kaltim H Isran Noor dan Wakil Gubernur H Hadi Mulyadi adalah ekspor lidi nipah dan jelantah (minyak goreng bekas).  Lidi nipah perdana diekspor ke India, sedangkan jelantah Kaltim menjadi langganan sejumlah negara di Eropa, antara lain Belanda, Spanyol dan Portugal.

Ekspor dua komoditas nonmigas itu bahkan menjadi bagian dari ekspor produk Indonesia bernilai tambah dan sustainable ke pasar global yang dipimpin langsung oleh Presiden RI Joko Widodo, Jumat, 4 Desember lalu. 

 

Nilai ekspor lidi nipah ke India ini pun tidak sedikit yakni mencapai USD 408.000. Lidi nipah akan digunakan sebagai  campuran bahan pembuatan asbes dan lapisan dasar karpet. 

“Tersedia lahan 30.000 hektar untuk pengembangan nipah di kawasan Delta Mahakam. Saat ini baru dimanfaatkan sekitar 50 hektar,” sebut Roby. 

 

Sedangkan di Negara-negara maju Eropa, jelantah Kaltim digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Salah satunya dimanfaatkan untuk pengoperasian kincir angin. 

Tujuh perusahaan Kaltim yang ikut dalam pelepasan ekspor oleh Presiden Joko Widodo adalah empat perusahaan kategori usaha kecil dan menengah (UKM), yaitu CV Tiga A Balikpapan, CV Masagenah, PT Garuda Sinar Perkasa, dan PT Syam Surya Mandiri. Sedangkan tiga perusahaan lainnya yaitu PT Pupuk Kaltim, PT SLJ Global, dan PT Kutai Refinery Nusantara masuk dalam skala besar.

 

Produk yang diekspor antara lain urea, amoniak, udang beku, plywood, RBD palm oil, produk perikanan, lidi nipah dan jelantah (minyak sisa pakai). 

“Nilai ekspor dari Kaltim mencapai USD 677,3 juta atau sekitar Rp9,3 triliun. Dari nilai itu, perusahan kategori UKM menyumbang USD 2,1 juta atau Rp29,1 miliar,” tambah Roby.

Negara tujuan ekspor produk-produk Kaltim antara lain Korea Selatan, Jepang, India, Australia, RRT, dan sejumlah negara di Eropa. 

 

Menurut Roby ini momentum yang sangat baik, bahwa produk-produk nonmigas Kaltim juga bisa bersaing ke pasar global. UKM Kaltim harus optimis ‘naik kelas’ dan berkontribusi terhadap peningkatan ekspor nonmigas. 

Pemprov Kaltim akan terus  mendorong dan memotivasi pelaku UKM yang sudah siap untuk lebih banyak lagi berusaha memasarkan produk usahanya ke pasar global.

“Kita optimis 100 UKM eksportir baru tercapai hingga 2023,” yakin Roby.

 

Geliat ekspor Kaltim ke pasar global ini sangat monumental, karena berkaitan erat dengan kebijakan Gubernur Isran Noor dan Wagub Hadi Mulyadi  untuk mewujudkan misi ke-2 Visi Kaltim Berdaulat yakni “Berdaulat dalam pemberdayaan ekonomi wilayah dan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan”. (Humasprovkaltim)

Berita Terkait
Government Public Relation