Kalimantan Timur
Merawat Bhineka Tunggal Ika di Ibu Kota Nusantara

Foto Arief Murtadha / Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi Kalimantan Timur

Sebagian wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) sudah ditetapkan menjadi ibu kota negara baru dengan UU Nomor 3 Tahun 2022. Masyarakat Kaltim menyambut gembira keputusan pemindahan pusat pemerintahan Indonesia itu ke Bumi Etam.

 

Gubernur Isran Noor pernah menceritakan cara komunikasinya mengambil hati Presiden Joko Widodo untuk memilih Kaltim, ketimbang daerah yang sebenarnya memiliki skor lebih tinggi dari sisi sejarah, yakni Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

 

“Skor Kaltim dari sisi sejarah itu paling rendah. Yang tertinggi itu Kalimantan Tengah, karena sudah direncanakan oleh Presiden Soekarno di sana,” kata Gubernur Isran Noor dalam beberapa kali kesempatan.

 

Lalu apa yang dikomunikasikan oleh Gubernur Kaltim H Isran Noor hingga akhirnya pada 26 Agustus 2019 di Istana Negara,  Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa lokasi yang dipilih adalah Kaltim, yakni sebagian di Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian di Kutai Kartanegara (Kukar). Bukan di Kalteng atau di Kalsel.

 

Gubernur Isran Noor mengungkapkan pada 6 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengundangnya untuk bicara empat mata tentang rencana pemindahan IKN. Gubernur Isran mengaku tidak secara khusus meminta Presiden Joko Widodo untuk memilih Kaltim menjadi IKN terpilih. 

 

Tetapi hanya menceritakan kepatuhan Kaltim kepada negara. Mulai ketaatan warga Kaltim untuk tidak meminta kemerdekaan seperti Papua dan Maluku, meski sama-sama merasa kurang mendapat perlakuan adil dari pemerintah pusat soal bagi hasil sumber daya alam. Kaltim pun tetap cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) meski beberapa kali tuntutan konstitusional menuntut keadilan pusat tak pernah dituruti pusat.

 

“Selanjutnya, saya hanya menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo kalau provinsi yang paling damai itu adalah Kaltim. Tidak pernah ada konflik SARA di Kalimantan Timur,” ungkap Gubernur.

 

“Rupanya, kedamaian itulah poin penting hingga akhirnya Presiden Joko Widodo memilih Kaltim,” imbuhnya.  

 

Kedamaian Kaltim sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu, ketika warga Kaltim selalu terbuka kepada pendatang. Kaltim juga menjadi daerah yang terbuka dalam hal kerja sama, seperti sudah berlangsung antara Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Terlihat dari adanya berbagai peninggalan bersejarah seperti seperangkat gamelan, keris, tombak, barang-barang dari kuningan dan perak, serta lainnya.

 

“Sejak dulu masyarakat Kaltim selalu terbuka dan damai. Mungkin itu salah satu pertimbangan penting Pak Presiden memilih Kaltim sebagai ibu kota baru,” yakin Gubernur.

 

Sekarang, tugas generasi masa kini adalah merawat kedamaian dan toleransi itu. Bhineka Tunggal Ika harus tetap menjadi semboyan yang terus mengalir dalam jiwa setiap anak bangsa, terutama warga Kalimantan Timur, karena itulah nilai tambah daerah ini selain kekayaan sumber daya alam yang berlimpah.

 

Gubernur Isran Noor dan Wakil Gubernur Hadi Mulyadi telah memberi teladan tentang merawat kedamaian di Ibu Kota Nusantara itu. Seperti mengajak semua saling menghormati dan bertoleransi. Dengan senang hati, Gubernur dan Wagub juga hadir dalam setiap acara-acara yang digelar oleh berbagai paguyuban suku, agama dan ras manapun. 

 

Beberapa hari lalu, Gubernur Isran Noor hadir di acara  Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Laskar Pemuda Adat Dayak Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (LPADKT-KU). Gubernur juga hadir dalam acara puncak peringatan HUT ke-19 Ikapakarti Kaltim di Kompleks Stadion Gelora Kadrie Oening Samarinda, Sabtu (16/7/2022).

 

Berbagai kegiatan agama apapun, Gubernur Isran dan Wagub Hadi akan selalu hadir. Dan itulah teladan yang ditunjukkan oleh pemimpin yang menjunjung tinggi kedamaian dan toleransi. Karena dalam kedamaian itu akan selalu lahir keindahan dan keberhasilan. (sul/ky/adpimprov kaltim)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation