Kalimantan Timur
Pemprov Susun Langkah Percepatan dan Pengendalian Zoonosis

SAMARINDA-Gubernur Kaltim Dr H Awang  Faroek Ishak mengatakan, Pemprov Kaltim terus berupaya melakukan pencegahan dan penanggulangan penyakit zoonosis (penyakit menular dari binatang ke manusia).  
"Untuk mendukung langkah tersebut, diperlukan partisipasi seluruh unsur masyarakat mulai dari rumah tangga hingga pemerintahan daerah. Sedangkan di tataran pemerintahan, Pemprov Kaltim  memandang perlu dibentuk sebuah lembaga yang khusus mengawasi dan mengendalikan penyakit yang ditularkan dari hewan tersebut," kata Gubernur Awang  Faroek Ishak saat membuka rapat fasilitasi pembentukan kelembagaan komisi provinsi pengendalian zoonosis yang disampaikan Kepala Biro Ekonomi Setprov Kaltim Abu Helmi di Samarinda, Rabu (18/9) malam.   
Dia katakan, upaya nyata untuk pencegahan penyakit tersebut, antara lain pengendalian secara cermat terhadap lalu lintas ternak dan program kandangisasi ternak. Tidak kalah pentingnya, pemerintah diharapkan terus mengkampanyekan pola hidup sehat kepada setiap warga.  
Pengedalian zoonosis, kata dia  meliputi serangkaian kegiatan managemen pengamatan, mengidentifikasikan  pencegahan, tata laksana kasus dan pemberantasan penularan serta pemusnahan sumber zoonosis.   
Usul pembentukan komisi pengedalian zoonosis lanjut Awang, sesuai Peraturan Presiden RI No 30 Tahun 2011, pada Pasal 7 ditegaskan bahwa kelembagaan pengedalian zoonosis sebagai wadah koordinasi,  terdiri dari Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis untuk tingkat pusat, Komisi Provinsi Pengedalian Zoonosis untuk tingkat Provinsi, Komisi Kabupaten/kota Pengendalian Zoonosis untuk tingkat kabupten/kota.   
Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Perencanaan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim,  Sabaraji berharap melalui rapat fasilitasi ini segera terbentuk komisi zoonosis di provinsi maupun kabupaten  dan kota.  
Sehingga lewat komisi zoonosis pemerintah dapat lebih mudah memonitor serta mengawasi dampak dari penyakit-penyakit tersebut. Tindak lanjut berikutnya adalah menyiapkan rencana aksi daerah dalam penanggulangan dan pengendalian percepatan zoonosis di Kaltim.  
“Zoonosis merupakan salah satu bencana non alam yang menjadi ancaman serius bangsa Indonesia saat ini. Karena itu BPBD mempunyai peranan untuk mengkoordinasikan pengendaliannya, “ ujarnya.  
Untuk diketahui, zoonosis merupakan penyakit menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya seperti rabies, flu babi, flu burung, anthrax. Saat  ini bahkan muncul virus corona yang menjadi ancaman terhadap para calon jemaah haji.   
Zoonosis dapat membawa kematian manusia apabila tidak segera ditanggulangi secara cepat dan tepat. Saat ini dunia dilanda zoonosis berupa flu burung dengan virus terbaru berupa H7N9 yang telah mengakibatkan kematian pada manusia.  
Data terakhir yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) per tanggal 19 April 2013 tercatat 91 kasus flu burung karena virus H7N9 diantaranya 17 meninggal dunia. Sekalipun di Indonesia belum ditemukan kasus flu burung dengan virus H7N9, tetapi pemerintah perlu mewaspadai agar jangan sampai menjadi wabah zoonosis.   
Rapat koordinasi  diikuti unsur badan, dinas dan lembaga terkait di lingkungan  pemerintah provinsi, kota dan kabupaten. Diharapkan setiap kota dan kabupaten segera  melaksanakan rakor dan membentuk komisi zoonosis. (sar/hmsprov)

//Foto: Kepala Biro Ekonomi Setprov Kaltim Abu Helmi menyampaikan sambutan. (sarjono/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait