Kalimantan Timur
Wagub Promosikan Destinasi Wisata Kota Samarinda

Foto Hudais Tri Putra / Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi Kalimantan Timur

SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim H Hadi Mulyadi promosikan destinasi wisata Kota Samarinda kepada seluruh peserta Seminar Nasional Education is The Most Powerful Tool to Change Civilization yang telah dilaksanakan oleh Share Education Indonesia, di Samarinda, Sabtu (5/2/2022) dan dihadiri peserta dari 10 provinsi di tanah air.

Saat ini seluruh peserta seminar, kata Hadi Mulyadi berada di atas Kapal Pesut Kita, yang nantinya membawa peserta menyusuri Sungai Mahakam untuk melihat obyek-obyek wisata seperti jembatan, masjid tua Shiratal Mustaqiem, Masjid Islamic Center Baitul Muttaqin, serta obyek wisata lainnya.

Samarinda ibu kota Provinsi Kaltim, lanjut Hadi Mulyadi, terdapat 4 jembatan yang membelah Sungai Mahakam, yaitu Jembatan Mahkota II atau jembatan 3, adalah jembatan yang menghubungkan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan dengan Kelurahan Simpang Pasir, Palaran.

 

 "Jembatan ini memiliki panjang sekitar 1.428 meter menjadi jembatan terpanjang di Kaltim. Mulai dibangun tahun 2002, dan dibuka pada 2017," jelas Hadi Mulyadi.

Selain Jembatan Mahkota II, jembatan yang dilewati adalah Jembatan Mahakam atau jembatan I dengan panjang total 400 meter, ruang vertikal 5 meter. Mulai dibangun pada 6 Oktober 1983 dan selesai pada 2 Agustus 1986. Jembatan ini dibuka pada tahun 1987. Kemudian ada Jembatan Kembar atau jembatan IV, dengan panjang total 220 meter, mulai dibangun tahun 2012, dibuka pada tahu 2020.

"Dan jembatan terakhir adalah Jembatan Mahulu, adalah jembatan kedua yang menghubungkan Samarinda kota ke wilayah seberang, yaitu Loa Janan dan Loa Buah dengan panjang 799,8 meter, lebar 16,9 meter, mulai dibangun 2006 dan dibuka pada tahun 2009," paparnya.

Selain jembatan, lanjut Hadi, Samarinda juga memiliki masjid tertua di Samarinda yaitu Masjid Shiratal Mustaqiem di Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Masjid yang dibangun pada tahun 1881, selesai pembangunannya pada 27 Rajab 1311 H atau tahun 1891 M. Didirikan oleh Sayyid Abdurahman Assegaf yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Bendahara.

"Masjid Shiratal Mustaqiem termasuk cagar budaya Indonesia, memiliki luas bangunan sekitar 625 meter persegi dan lahan seluas 2.028 meter persegi ini kerap dikunjungi orang-orang penting, baik dari para tokoh daerah, regional, maupun nasional," jelas Hadi.

Samarinda dan Kaltim khususnya, lanjut Hadi Mulyadi, juga memiliki Masjid Islamic Center Baitul Muttaqin yang dibangun tahun 2001, dengan daya tampung 45.000 jemaah. Masjid megah ini bergaya arsitektur khas Turki dengan kombinasi unsur Eropa, Timur Tengah, dan Indonesia.

"Perpaduan aneka gaya arsitektur tersebut dapat dilihat dari kubah yang mengadopsi model kubah Masjid Haghia Sophia di Istambul, Turki dan penempatan gerbang-gerbang tinggi nan megah ala Eropa kuno. Adapun desain menara terinspirasi oleh menara Masjid Nabawi, Madinah," jelas Hadi Mulyadi.

Selain destinasi susur Sungai Mahakam, Hadi Mulyadi juga mempromosikan obyek-obyek wisata menarik lainnya di Samarinda, termasuk destinasi daerah lainnya di Kaltim, yang memiliki banyak tempat-tempat wisata yang bernuansa kebudayaan, alam, pantai, sejarah, religi maupun kuliner yang tak kalah dengan obyek wisata lainnya di tanah air.(mar/sul/adpimprov kaltim)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation