Asap Karhutla Picu Udara Tidak Sehat, Warga Kaltim Diimbau Pakai Masker dan Waspadai Kebakaran
Asap Karhutla Picu Udara Tidak Sehat, Warga Kaltim Diimbau Pakai Masker dan Waspadai Kebakaran

 

SAMARINDA — Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur mulai berdampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Berdasarkan Laporan Harian Posko Siaga Darurat Bencana Karhutla Kaltim per 6 September 2026, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk parameter partikel debu halus (PM 2.5) telah melonjak hingga masuk dalam kategori TIDAK SEHAT.

Memburuknya kualitas udara ini dipicu oleh lonjakan titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit. Hingga saat ini, tercatat ada 657 titik hotspot yang tersebar di wilayah Kaltim, dengan 23 titik di antaranya berstatus sebagai firespot atau titik api aktif. Wilayah Paser menjadi daerah dengan firespot terbanyak yakni 9 titik, disusul Samarinda dengan 5 titik api.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi lahan sangat kering dan rawan terbakar, sehingga asapnya kini mengganggu kesehatan dan aktivitas warga. Ia pun menekankan bahwa pemicu kebakaran ini sebagian besar tidak terlepas dari faktor kelalaian manusia.

"Ancaman kekeringan dan bencana karhutla ini masih terjadi karena kondisi cuaca dan curah hujan yang sangat minim, sehingga lahan rawan terbakar dan asapnya mengganggu. Kita ketahui ini terjadi sebagian akibat dari kelalaian manusia juga," ujar Buyung Dodi Gunawan, Senin (7/9/2026) usai rapat koordinasi di Posko Siaga Darurat Kaltim.

Guna mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, pihak BPBD mengimbau warga untuk mulai membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat bepergian. Selain itu, masyarakat dan para pelaku usaha diingatkan secara tegas agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

"Saat ini dengan tegas tidak diperbolehkan lagi untuk membuka lahan dengan cara membakar. Ini pun disampaikan langsung oleh Pak Presiden. Bagi yang melanggar ada sanksi tegas. Kami meminta masyarakat mari kita saling mengingatkan, dan kami secara aktif juga meminta bantuan pemerintah kabupaten/kota untuk terus mengimbau warga di desa atau wilayahnya," tegas Buyung.

Di sisi lain, upaya pemadaman darat dan udara terus dioptimalkan oleh 4.026 personil Satgas Darat gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan. Meski menghadapi kendala keterbatasan sumber air dan peralatan di lapangan, BPBD Kaltim terus meningkatkan koordinasi lintas sektor serta mengharapkan dukungan tambahan dari BNPB pusat, termasuk bantuan helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman dari udara. (sef/pt).

Foto : Dayang