Samarinda – Pembangunan keluarga menjadi fondasi utama dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Upaya mencetak generasi unggul tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses yang dimulai dari penguatan ketahanan keluarga hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, mengatakan bahwa pembentukan generasi berkualitas harus diawali dengan memperkuat ketahanan keluarga serta didukung upaya pengentasan kemiskinan.
“Untuk mencetak generasi yang unggul tidak bisa dilakukan secara instan. Ada proses yang harus dilalui, dimulai dari penguatan ketahanan keluarga, peningkatan kualitas keluarga, hingga pengentasan kemiskinan,” ujarnya saat menjadi pembicara terkait wujudkan ketahan keluarga, Jum'at (5/6/2026).
Menurut Sunarto, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program ini bertujuan membantu keluarga kurang mampu yang memiliki anak berisiko stunting maupun yang sudah mengalami stunting.
“Melalui Genting, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang secara finansial belum beruntung. Mari mengikrarkan diri menjadi orang tua asuh sebagai bentuk investasi sosial dan investasi akhirat,” katanya.
Ia mengungkapkan, Program Genting pada 2025 berhasil melampaui target nasional. Dari target 1 juta sasaran yang mendapatkan intervensi, realisasinya mencapai sekitar 1,4 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
“Capaian tersebut menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap upaya percepatan penurunan stunting,” jelasnya.
Memasuki tahun 2026, Program Genting kembali menjadi salah satu program prioritas BKKBN dengan target yang tetap sama, yakni menjangkau satu juta sasaran. Namun, pola intervensi yang dilakukan mengalami penyesuaian.
Sunarto menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memperhatikan faktor penyebab lainnya, seperti infeksi berulang akibat lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat.
“Jangan lupa bahwa salah satu penyebab stunting adalah infeksi berulang. Jika kondisi rumah tidak layak huni dan sanitasinya tidak memenuhi standar kesehatan, maka risiko infeksi akan semakin tinggi,” terangnya.
Karena itu, pada tahun ini Program Genting lebih memprioritaskan intervensi pada perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), penyediaan sanitasi yang layak, jamban sehat, serta akses terhadap air bersih. Intervensi pemenuhan gizi tetap dilakukan, namun menjadi bagian dari pendekatan yang lebih komprehensif.
“Jika diprioritaskan, maka yang pertama adalah RTLH, kedua sanitasi dan akses air bersih, baru kemudian intervensi gizi,” ujarnya.
Selain itu, BKKBN juga terus menjalankan program edukasi keluarga dan memperkuat Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) untuk mendorong kemandirian ekonomi keluarga.
“Peningkatan ekonomi keluarga harus terus didorong agar kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi, termasuk pemenuhan nutrisi yang cukup bagi anak-anak. Dengan demikian, upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya (Prb/ty).