Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat upaya membangun masa depan anak dan remaja yang menghadapi berbagai persoalan sosial melalui pembinaan berbasis keterampilan kerja. Di balik tembok Panti Sosial Bina Anak Remaja Terampil (PSBART) milik Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, tersimpan harapan baru bagi puluhan anak dan remaja. Bukan sekadar menjalani pembinaan, mereka dibekali keterampilan agar mampu kembali ke masyarakat dengan bekal masa depan yang lebih baik.
Kepala UPTD PSBART Kaltim, Suharno menjelaskan, panti tersebut kini fokus menangani tiga kelompok sasaran. Yakni anak berhadapan dengan hukum (ABH), remaja terlantar, dan remaja putus sekolah. Perubahan itu sejalan dengan Pergub Kaltim Nomor 15 Tahun 2024 yang sekaligus mengubah nama panti menjadi Panti Sosial Bina Anak Remaja Terampil.
"Harapan kami sederhana, setelah keluar dari sini mereka bisa mandiri dan punya keterampilan," ujar Suharno saat menerima kunjungan Sekretaris Dinas Sosial, Irene Yuriantini pada Selasa (7/7/2026).
Untuk mewujudkan hal tersebut, panti menyediakan berbagai pelatihan keterampilan dasar. Mulai dari bengkel sepeda motor, teknik las, tata boga, tata rias, barista, hingga barbershop. Peserta reguler dari 10 kabupaten/kota di Kaltim mengikuti pembinaan selama empat bulan. Terdiri atas tiga bulan pelatihan di panti dan satu bulan magang langsung di dunia kerja.
Selama mengikuti program, seluruh kebutuhan peserta dipenuhi pemerintah, mulai dari transportasi, tempat tinggal, makan, hingga perlengkapan pelatihan.
Sementara itu, pembinaan bagi anak berhadapan dengan hukum disesuaikan dengan putusan pengadilan. Ada yang langsung ditempatkan di panti, ada pula yang menjalani pelatihan kerja setelah menjalani pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).
Menurut Suharno, pendekatan di PSBART berbeda dengan lembaga pemasyarakatan. Anak-anak tetap mendapatkan ruang untuk beraktivitas dan berinteraksi selama berada di lingkungan panti. Sehingga proses pembinaan berlangsung lebih humanis.
"Di sini mereka bukan hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga belajar membangun kepercayaan diri dan menemukan minatnya. Kalau ada yang tertarik di bengkel, kita perdalam di bengkel. Kalau suka barista atau tata boga, kita arahkan ke sana," katanya.
Panti seluas sekitar dua hektare itu saat ini menampung 40 peserta reguler setiap angkatan, dengan rencana membuka angkatan kedua pada Agustus mendatang.
Melalui pembinaan berbasis keterampilan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berharap anak-anak yang pernah tersandung persoalan hukum maupun putus sekolah tidak lagi dipandang dari masa lalunya, melainkan dari kesempatan baru yang mereka miliki untuk bangkit, berkarya, dan menjadi pribadi yang mandiri. (KRV/pt)