Samarinda – Jalanan Kota Samarinda akan kembali menjadi ruang ekspresi panggung terbuka bagi kreativitas masyarakat Kalimantan Timur. Beragam topeng, kostum unik, seni pertunjukan, hingga kreasi komunitas akan hadir dalam Mahakam Mask Carnival yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur pada 27 September 2026 mendatang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pariwisata Sedunia 2026, sekaligus momentum untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi komunitas, pelajar, pegiat seni dan budaya, serta masyarakat umum dalam menampilkan karya dan kreativitas mereka.
Mengusung tema “Digital Agendas and Artificial Intelligence for Redesigned Tourism”, Mahakam Mask Carnival akan melibatkan sekitar 1.150 peserta yang tergabung dalam 20 kelompok dan tujuh grup. Para peserta akan menampilkan beragam kreasi melalui parade kostum, topeng, seni budaya dan pertunjukan kreatif.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim M. Faisal, didampingi Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim Awang Khalik, mengatakan Mahakam Mask Carnival tidak sekadar menghadirkan pawai, tetapi dirancang sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk menunjukkan gagasan dan kreativitas.
“Kami ingin memberi ruang kepada komunitas untuk berekspresi. Tidak hanya topeng tradisional, tetapi juga berbagai kreasi yang menarik dan menghibur masyarakat,” kata Faisal saat rapat persiapan di ruang rapat Sapta Pesona lantai 2 kantor Dispar Kaltim Jalan Jenderal Sudirman Samarinda, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, peserta diberikan keleluasaan mengembangkan karakter, topeng maupun kostum sesuai gagasan masing-masing. Kreativitas tersebut dapat mengambil inspirasi dari kekayaan budaya Nusantara maupun menghadirkan konsep modern yang unik dan atraktif.
Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi juga menjadi bagian penting dari pertunjukan. Ruang publik diubah menjadi panggung bersama, tempat ide, seni, budaya dan kreativitas bertemu.
Mahakam Mask Carnival akan mengambil titik awal di Kantor PT Pelindo, kemudian bergerak menyusuri Jalan Yos Sudarso, Jalan Gajah Mada, Jalan Gunung Kinibalu, dan Jalan Jenderal Sudirman sebelum berakhir di Kantor Gubernur Kalimantan Timur. Total jarak yang ditempuh sekitar 1,1 kilometer.
Setibanya di halaman Kantor Gubernur Kaltim, peserta akan melanjutkan penampilan di panggung atraksi. Setiap kelompok diberikan waktu sekitar tiga menit untuk menampilkan karya mereka.
“Rutenya sengaja dibuat pendek agar peserta tidak kelelahan, terutama mereka yang menggunakan kostum besar. Jadi fokusnya bukan pada jarak tempuh, tetapi pada kualitas pertunjukan,” jelas Faisal.
Berbagai atraksi turut disiapkan untuk menyemarakkan kegiatan, di antaranya parade drum band pelajar, pertunjukan pencak silat dari berbagai perguruan, serta parade komunitas budaya dan kreatif dengan aneka topeng dan kostum.
Kehadiran pelajar dan generasi muda menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Dispar Kaltim melihat kreativitas anak muda perlu terus diberikan ruang agar dapat berkembang menjadi karya seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai budaya dan potensi ekonomi kreatif.
“Harapannya, kegiatan ini terus berkembang. Dari Kaltim, kita ingin menghadirkan ruang kreativitas yang nantinya bisa mempertemukan berbagai budaya dan karya masyarakat dari seluruh Indonesia,” ujarnya.
Semarak Hari Pariwisata Sedunia di Kaltim tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan karnaval. Dispar Kaltim juga berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata kabupaten/kota untuk menggelar kegiatan di masing-masing daerah, termasuk aksi membersihkan destinasi wisata di 10 kabupaten/kota se-Kaltim.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi dan atraksi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas.
Kolaborasi pemerintah, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, pelaku usaha pariwisata, pengelola destinasi dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam pengembangan pariwisata Kaltim.
Melalui Mahakam Mask Carnival, kreativitas warga diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan sehari. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara seni, budaya, kreativitas dan pariwisata, sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat Kaltim memiliki banyak cerita dan karya untuk ditampilkan kepada publik. (tp/pt)