Geosite Dumaring Jadi Contoh Konservasi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Berau – Tim Penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat mengunjungi Geosite Batu Gamping Dumaring di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kamis (9/7/2026). Kawasan ini menjadi contoh bagaimana pelestarian alam mampu berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Img 4073

Koordinator Program Kolaborasi dan Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring, Nandang Muliana, menjelaskan batugamping berusia sekitar 11–3 juta tahun itu tidak hanya memiliki nilai geologi, tetapi juga menjadi penopang utama ekosistem hutan karst. 

Img 4075

"Batugamping menjadi penyangga keberlangsungan hutan karst sekaligus mendukung kehidupan berbagai flora dan fauna di kawasan ini," ujarnya.

Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), masyarakat memanfaatkan hasil hutan secara berkelanjutan dengan membudidayakan berbagai bibit tanaman seperti ulin, mangrove, dan kapur. Kegiatan tersebut mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp800 juta.

Selain sektor perhutanan sosial, masyarakat juga mengembangkan potensi wisata alam melalui Taman Gua Dumaring. Destinasi ini menawarkan pengalaman geowisata berbasis alam dengan konsep open trip yang mengedepankan edukasi, pelestarian lingkungan, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaannya.

Img 4070

Pengembangan kawasan Geosite Dumaring dilaksanakan melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian warisan geologi sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Keberhasilan Geosite Dumaring menjadi gambaran bahwa konsep geopark tidak hanya berfokus pada pelestarian kekayaan geologi, tetapi juga mampu menghadirkan keseimbangan antara konservasi lingkungan, pengembangan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Addg/krv/pt)