Samarinda – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menegaskan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo menjadi bagian penting dalam upaya Indonesia mempercepat transisi menuju energi bersih dan kemandirian energi nasional.
Menurut Hashim, proyek energi terbarukan tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat karena sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam menekan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.
“Target Indonesia pada tahun 2060 adalah mencapai Net Zero Emission (NZE) emisi karbon nol persen. Bahkan Presiden berharap bisa lebih cepat dari target tersebut,” ujarnya. Hal itu disampaikan Hashim saat menghadiri Groundbreaking Ceremony Batoq Kelo Hydropower Project di Pendopo Odah Etam Kantor Gubernur Kaltim, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, komitmen Indonesia terhadap energi bersih telah disampaikan dalam berbagai forum internasional, termasuk Konferensi Perubahan Iklim Dunia (COP) di Azerbaijan dan Brasil.
Hashim menilai proyek PLTA Batoq Kelo menjadi langkah konkret untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di tengah meningkatnya ancaman krisis geopolitik global. Termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak terhadap pasokan dan harga minyak dunia.
“Kita harus menuju kemandirian energi. Proyek hydropower seperti ini semakin penting karena Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan energinya dari sumber daya alam sendiri, termasuk tenaga air,” tegasnya.
Proyek PLTA Batoq Kelo sendiri memiliki nilai investasi sekitar Rp13 triliun dan berada di wilayah hulu Sungai Mahakam. Tepatnya di Kecamatan Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu.
Selain pembangkit listrik tenaga air, Hashim juga menyinggung pengembangan teknologi energi baru berbasis thorium sebagai alternatif pengganti genset dan solar yang dinilai semakin mahal serta tidak sejalan dengan visi energi bersih nasional.
Hashim berharap proyek PLTA Batoq Kelo tidak hanya memperkuat pasokan energi nasional, tetapi juga membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan mendorong pembangunan kawasan pedalaman Kalimantan Timur. (KRV/pt)