Jaga Biodiversitas, Kaltim Perkuat Mitigasi Karhutla di Musim El Nino

Samarinda – Fenomena El Nino dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi kelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur. Kaltim sendiri memiliki sekitar 8 juta hektare kawasan hutan yang terdiri atas hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi, serta kawasan hutan yang dapat dikonversi.

Menurut Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim, Hamdani, El Nino berpotensi meningkatkan risiko karhutla yang berdampak besar terhadap biodiversitas di dalamnya. Mengantisipasi kondisi tersebut, Dishut Kaltim telah melakukan persiapan dengan memperkuat sarana prasarana penanganan karhutla dan penambahan personel.

“Sejak 2022 Dishut Kaltim terus meningkatkan sarana dan prasarana penanganan karhutla sekaligus memperkuat pelibatan masyarakat. Hingga kini telah terbentuk 301 regu Masyarakat Peduli Api atau MPA dengan sekitar 5.800 anggota yang tersebar di desa-desa sekitar kawasan hutan,” jelas Hamdani
dalam Dialog Publika TVRI Kalimantan Timur bertajuk “El Nino dan Karhutla Ancam Biodiversitas Kaltim”, Selasa (8/9/2026).

Para anggota MPA dibekali pakaian anti api, peralatan penanganan karhutla, serta pelatihan. Dishut juga memperkuat armada melalui pengadaan mobil tangki, pompa air, slip on dan peralatan lainnya.

Hamdani menyebut, berdasarkan data 1 Agustus hingga 7 September 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 1.440 hektare, terdiri dari sekitar 600 hektare di dalam kawasan hutan  dan 840 hektare di luar kawasan.

“Semoga tidak terjadi lagi. Kita terus lakukan pencegahan,” ujarnya.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BKSDA Kaltim, Yoyok Sugianto mengatakan pihaknya mengelola delapan kawasan konservasi yang tersebar di Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Berau.

Menghadapi ancaman karhutla, BKSDA Kaltim memperkuat deteksi dini melalui sistem pemantauan berbasis telegram yang terhubung dengan data satelit. Ketika terdeteksi titik panas yang berada di sekitar kawasan konservasi, informasi peringatan dapat segera diterima petugas untuk ditindaklanjuti.

Yoyok menegaskan, Kaltim memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Seperti orang utan dan bekantan yang merupakan spesies endemic khas Kalimantan. Dirinya menuturkan, sempat terjadi kebakaran di sekitar Samboja yang berdampak pada pemindahan 11 orang utan yang tengah menjalani proses rehabilitasi untuk dikembalikan ke alam.

“Karena terdampak asap, kami lakukan pemindahan,” jelasnya.

BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi terus melakukan langkah mitigasi, termasuk patroli dan pemetaan wilayah berdasarkan titik panas, keberadaan sungai, lokasi penyelamatan serta potensi interaksi negatif dengan masyarakat.

Dua wilayah yang menjadi prioritas penanganan karena tingkat kerawanannya tinggi adalah Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Upaya patroli dan kesiapsiagaan terus diperkuat untuk mencegah karhutla semakin meluas dan melindungi kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayati di dalamnya. (KRV/pt)