Udara pagi di Sanga-Sanga, 27 Januari 2026, terasa lebih dari sekadar embusan angin Kalimantan yang lembap. Ada getaran masa lalu yang seolah merayap di sela-sela kibaran bendera.
Tepat hari ini, 79 tahun silam, kota kecil yang kaya akan minyak ini tidak hanya memompa bahan bakar, tapi memompa keberanian. Rakyat Sanga-Sanga memilih satu takdir: Merah Putih harus berkibar, atau nyawa jadi taruhannya.
Usai upacara peringatan yang khidmat, pemandangan mengharukan tersaji di sudut lapangan. Beberapa veteran yang kini telah memasuki usia senja duduk berderet. Mata mereka yang mulai lamur mendadak tajam dan berkaca-kaca saat menyaksikan pertunjukan teatrikal anak-anak muda.
Dentuman meriam buatan dan teriakan "Merdeka!" dalam aksi tersebut seolah menjadi mesin waktu. Bagi mereka, itu bukan sekadar akting; itu adalah fragmen memori yang menyakitkan sekaligus membanggakan.
Di antara para pejuang tua itu, ada Lenjau Usat. Pada 1947, ia hanyalah seorang pemuda berusia 18 tahun. Di saat remaja seusianya di zaman sekarang mungkin sedang sibuk dengan gawai, Lenjau muda sudah harus menggenggam senjata.
Baginya, kemerdekaan Sanga-Sanga bukan sekadar cerita heroik di buku sejarah, melainkan sebuah duka yang mendalam.
"Saya sangat sedih saat kejadian itu. Banyak kawan, kakak, dan orang tua saya hilang dan ditemukan meninggal. Dengan jiwa patriot, kami harus menumpas penjajah tersebut dari tanah Kalimantan ini," kenang Lenjau dengan suara bergetar, menahan sesak di dada.
Kehilangan orang tua dan saudara akibat kekejaman penjajah menjadi "bahan bakar" bagi semangatnya. Perjuangannya pun tak berhenti di Sanga-Sanga; catatan hidupnya mencatat bahwa pasca-kemenangan di tanah sendiri, ia dan kawan-kawannya terus bergerak memanggul senjata hingga ke perbatasan Malaysia.
Pesan yang dibawa para veteran hari ini sangat sederhana namun berat untuk dipikul jika tanpa kesadaran: Jaga perdamaian. Mereka telah membayar harga kemerdekaan dengan nyawa dan air mata agar generasi sekarang tak perlu lagi mencium bau mesiu di tanah sendiri. Sanga-Sanga bukan hanya tentang sumur minyak tua, tapi tentang sumur keberanian yang tak boleh kering di hati anak muda Indonesia.