Lebih dari 5.000 MPA Jadi Kekuatan Kaltim Hadapi Ancaman Karhutla
Lebih dari 5.000 MPA Jadi Kekuatan Kaltim Hadapi Ancaman Karhutla

SAMARINDA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas kehutanan. Peran masyarakat di tingkat tapak menjadi kekuatan penting dalam mendeteksi sekaligus merespons potensi kebakaran sejak dini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Rusmadi, menyebut lebih dari 5.000 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) telah tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Keberadaan mereka menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman karhutla di wilayah masing-masing.

Pentingnya keterlibatan masyarakat kembali terlihat dalam penanganan titik api di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara, Selasa (1/9) malam. Dinas Kehutanan Kaltim bersama UPTD Tahura dan tim Otorita IKN turun melakukan pengendalian api di kawasan Kilometer 50.

Rusmadi mengatakan, luas kawasan hutan di Kaltim yang mencapai lebih dari 8 juta hektare menjadi tantangan besar dalam pengawasan dan penanganan karhutla. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya dukungan masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran.

“Dengan luas kawasan hutan yang sangat besar, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama,” ujarnya.

Selain mengandalkan MPA, Dinas Kehutanan Kaltim juga memperkuat kesiapsiagaan melalui penempatan personel, armada serta sarana dan prasarana pada titik-titik strategis. Pos Kilometer 45 Tahura Bukit Soeharto menjadi salah satu lokasi yang disiapkan untuk mempercepat pergerakan petugas ketika terdapat laporan titik api.

Rusmadi menegaskan, kolaborasi menjadi kebutuhan utama dalam pengendalian karhutla. Pemerintah daerah, aparat keamanan, BPBD, masyarakat dan unsur terkait lainnya harus bergerak dalam satu kesatuan agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal.

“Sinergi lintas sektor menjadi kekuatan utama kita. Dengan keterbatasan personel, tidak mungkin penanganan karhutla dilakukan sendiri,” katanya.

Ia berharap kesadaran dan partisipasi masyarakat terus diperkuat, terutama dalam mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Menurutnya, menjaga hutan bukan semata tugas petugas kehutanan, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan kawasan hutan Kaltim tetap terlindungi dan lestari.

Kesiapsiagaan, deteksi dini dan gotong royong menjadi fondasi penting dalam menghadapi karhutla. Dengan dukungan masyarakat hingga tingkat tapak dan sinergi lintas sektor, upaya perlindungan hutan Kaltim diharapkan semakin kuat. (rey/pt)