Lompatan Modernisasi Peternakan Kaltim: Siapkan Diri Jadi Penyangga Utama Pangan Ibu Kota Nusantara

SAMARINDA — Sektor peternakan di Kalimantan Timur kini sedang mengalami transformasi besar-besaran. Tidak lagi dipandang sebagai usaha tradisional pemeliharaan ternak biasa, sektor ini telah bergerak menjadi industri agribisnis modern yang strategis. Langkah tersebut sangat krusial mengingat Provinsi Kalimantan Timur kini mengemban amanat besar sebagai penyangga utama kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN).  

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur, Arif Murdiyanto, menegaskan komitmen Pemprov Kaltim dalam memperkuat kemandirian pangan asal ternak. Dalam keterangannya pada Rabu (29/7/2026), beliau menyampaikan bahwa DPKH saat ini tengah menggejot berbagai program strategis mulai dari peningkatan populasi, modernisasi teknologi, hingga pengawasan ketat keamanan pangan asal hewan.  

Menjawab pandangan publik yang masih menganggap sektor peternakan sebagai pekerjaan tradisional, Arif Murdiyanto menegaskan bahwa paradigma tersebut sudah harus diubah. Menurutnya, peternakan Kaltim hari ini adalah industri agribisnis modern bernilai ekonomi tinggi dengan peluang investasi yang sangat besar.

"Saat ini peternakan merupakan sektor agribisnis modern yang memanfaatkan teknologi, mulai dari inseminasi buatan, perbaikan genetik, formulasi pakan, digitalisasi manajemen usaha, biosekuriti hingga pemasaran digital. Peternakan bukan lagi sekadar memelihara ternak, tetapi sebuah industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang investasi yang besar," ujar Arif. ( 29/7 )

Fokus pengembangan DPKH Kaltim mencakup pelbagai komoditas unggulan seperti sapi potong, kambing, ayam pedaging, ayam petelur, ayam buras, serta itik. Komoditas ini menyokong ketersediaan produk turunan berupa daging, telur, susu, dan produk olahan lainnya. Saat ini, produksi daging lokal terbesar disumbang oleh pasokan ayam pedaging, sementara kebutuhan telur didominasi oleh peternak ayam petelur lokal.  

Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur dipandang sebagai peluang emas sekaligus tantangan besar. Pertumbuhan penduduk dan masuknya jutaan warga baru di kawasan IKN mendorong lonjakan permintaan produk pangan asal ternak secara drastis.  

Arif menjelaskan bahwa sebagian kebutuhan komoditas unggulan seperti daging ayam dan telur sudah mampu dipenuhi dari produksi lokal. Kendati demikian, untuk komoditas daging sapi dan susu, Kaltim masih memerlukan pasokan dari luar daerah. Hal inilah yang mendorong DPKH menempatkan peningkatan populasi ternak dan daya tarik investasi sebagai prioritas utama. 

Dari sisi kesehatan masyarakat dan keamanan pangan, DPKH secara ketat menerapkan pengawasan produk berbasis sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), pemeriksaan rutin Rumah Potong Hewan (RPH), surveilans laboratorium, dan biosekuriti. Penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), African Swine Fever (ASF), Avian Influenza (AI), Brucellosis, dan Rabies terus ditangani melalui sistem surveilans aktif-pasif serta vaksinasi masal.

"Kami mengajak seluruh peternak untuk menerapkan biosekuriti, segera melaporkan apabila ada ternak sakit, mengikuti vaksinasi, menggunakan bibit unggul, menjaga kebersihan kandang, serta memanfaatkan layanan dokter hewan dan Puskeswan agar produktivitas ternak tetap optimal," imbau Arif.

Dalam aspek pemberdayaan ekonomi, DPKH Kaltim menaruh perhatian besar pada regenerasi peternak. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 237 peternak milenial telah terdata dan masuk dalam basis pengembangan SDM masa depan melalui pelatihan, bimbingan teknis, serta fasilitasi akses permodalan dan kemitraan.  

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah semata, melainkan butuh sinergi lintas sektor—termasuk perguruan tinggi, perbankan, kementerian, pelaku usaha, dan media massa.