Balikpapan — Momentum mudik Lebaran 2026 diprediksi menjadi penggerak ekonomi musiman yang signifikan di Kalimantan Timur. Terutama di tengah tekanan inflasi yang mencapai 4,64 persen pada Februari 2026.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Putri Amanda Nurrahmadani mengatakan arus pemudik biasanya mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dalam waktu singkat sehingga mempercepat perputaran uang di masyarakat.
“Arus pemudik membawa peningkatan konsumsi yang langsung terasa di sektor perdagangan, kuliner, transportasi lokal, hingga jasa,” ujarnya seperti dikutip dari Bisnis Kalimantan, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, dibandingkan stimulus fiskal yang memerlukan proses panjang, dampak ekonomi Lebaran lebih cepat dirasakan dan menyebar luas. Khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal senada disampaikan Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kaltim, Reza Fadillah. Ia menyebut Lebaran menjadi stimulus ekonomi rakyat yang paling konkret karena langsung memicu aktivitas konsumsi.
Reza menyebut ada empat sektor yang paling cepat merespons momentum Lebaran. Yakni perdagangan ritel dan pasar tradisional, sektor makanan-minuman atau UMKM kuliner, transportasi dan logistik, serta akomodasi dan pariwisata lokal.
Menariknya, Kaltim memiliki karakteristik mobilitas ekonomi dua arah. Selain menjadi tujuan mudik, daerah ini juga menjadi sumber tenaga kerja sektor strategis seperti tambang dan konstruksi yang bekerja dari berbagai provinsi.
“Ketika pemudik datang ke Kaltim terjadi lonjakan konsumsi, tetapi saat pekerja Kaltim mudik ke luar daerah konsumsi internal juga berkurang. Jadi ada efek plus dan minusnya,” ujarnya. (KRV/pt)