Transformasi Desa Digital, Faisal ; Tidak Ada Cara Menembus Ruang dan Waktu Selain Digital
Transformasi Desa Digital, Faisal ; Tidak Ada Cara Menembus Ruang dan Waktu Selain Digital

Samarinda - Dalam upaya mendorong pengembangan desa melalui teknologi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, H. Muhammad Faisal, mengungkapkan pentingnya transformasi digital bagi desa-desa di Kaltim. 

Hal ini disampaikan dalam Dialog Publika yang bertempat di studio 2 TVRI Kaltim, Senin (21/10/2024).

Faisal menyoroti tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur di Kaltim yang kerap dikaitkan dengan stigma bahwa daerah tersebut kaya akan sumber daya alam, namun tetap menghadapi hambatan dalam membangun infrastruktur. 

Img 20241021 W A0038

“Banyak yang beranggapan, ‘Kaltim itu banyak duitnya, masa tidak bisa bangun infrastruktur?’ Saya sering ilustrasikan, luas wilayah Kaltim itu setara satu kali Pulau Jawa sebelum Kalimantan Utara berpisah. Bahkan, satu setengah kali lipatnya, jika dibandingkan dengan gabungan wilayah di Pulau Jawa,” ungkapnya.

Kemudian, dalam konteks infrastruktur digital, salah satu yang dipakai adalah pola wireless atau nirkabel, yang memungkinkan transfer data tanpa kabel fisik. Namun, membangun menara di seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil memerlukan investasi yang besar dan waktu yang tidak singkat.

Faisal juga menjelaskan Palapa Ring yang merupakan proyek pembangunan infrastruktur jaringan tulang punggung serat optic Nasional yang bertujuan untuk pemerataan akses pita lebar (Broadband) sepanjang 36.000 km. Proyek ini terdiri atas 7 (tujuh) lingkar kecil serat optic yakni wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi dan Maluku.

"Di Kaltim kalau tidak salah di donggala loncatnya ke Kabupaten Malinau masuk terus tuh sampai ke Kabupaten Mahakam Ulu kabelnya ditarik (fiber optik),"ujar Faisal yang juga Ketua ASKOMPSI Periode 2023-2025.

Selain itu, Faisal menyinggung soal keterbatasan kewenangan daerah dalam hal telekomunikasi. Sejak tahun 2017, kewenangan tersebut telah diambil alih oleh Pemerintah Pusat, menyulitkan upaya daerah untuk mempercepat pembangunan menara telekomunikasi. Namun, ia bersyukur bahwa melalui Undang-Undang Cipta Kerja, ada sedikit kelonggaran yang memungkinkan daerah untuk turut terlibat.

Img 20241021 W A0036

Meski dengan berbagai kendala, Faisal optimistis terhadap perkembangan akses internet di desa-desa di Kaltim. Dalam kondisi normal, ia menyebut bahwa kini hanya tersisa 30 persen area yang masih mengalami blankspot. Selain itu, jaringan fiber optik telah menjangkau sekitar 75 persen wilayah kabupaten/kota, dengan fokus pada percepatan di desa-desa yang jauh dari pusat.

Ia berharap, ada kebijakan baru dari Kementerian Komunikasi dan Digital, yang kini dipimpin oleh Meutya Hafid, akan mempercepat proses akses telekomunikasi di daerah-daerah terpencil. Dengan sinergi bersama Asosiasi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Seluruh Indonesia (ASKOMPSI), yang ia pimpin saat ini, percepatan transformasi digital di Kaltim akan segera terwujud.

Ia juga menyoroti dampak positif pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sudah mulai terasa di Kaltim, khususnya di kota-kota mitra IKN seperti Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser. 

"Tidak ada cara lagi untuk berpromosi dengan cepat menembus ruang dan waktu selain digital. Tidak ada cara lagi kita ditengah keterbatasan infrastruktur apapun itu kecuali di dunia digital. Media sosial, digital marketing ya itu dah polanya, sehingga semangat kawan kawan di Kaltim cukup tinggi,"jelasnya.

“Dalam dua tahun terakhir, sudah ada 20 hingga 40 menara telekomunikasi yang dibangun di wilayah tersebut. Ini menunjukkan efek luar biasa dari pembangunan IKN bagi Kaltim.”urainya

Ke depan, Faisal optimistis bahwa transformasi desa digital akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan desa di Kaltim. Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital sebagai bagian dari percepatan transformasi digital. (rey/pt)